Abdurrahman bin auf
merupakan sahabat Rasulullah yang paling kaya di makkah dan termasuk sahabat
yang akan masuk surga Allah tatkala ia masih hidup. Selain memiliki banyak
harta iapun lihai dalam berwirausaha. Seketika ditinggal berdakwah oleh
rasulullah ke madinah, maka ia dihadapkan oleh beberapa pilihan, pertama yaitu
tetap dengan hartanya di makkah. Kedua yaitu ikut bersama rasulullah hijrah di
madinah dengan kata lain berdakwah di madinah. Masyaallah dengan kecintaannya
tehadap Rasulullah ia lebih memilih untuk ikut bersama rasulullah dan
meninggalkan seluruh hartanya. Ketika ia sampai di madinah Rasulullah
mempersaudarakan Abdurrahman bin auf dengan salah seorang yang paling kaya di
masa itu, ia adalah Saad bin rabi’ al anshari. Dikarenaka kebahagiaan Saad bin
rabi’ al-Anshari dpersaudarakan dengan Abdurrahman bin auf yang sevisi dan sejalan
dengan dirinya, maka Saad bin Rabi’ Al-anshari berkata : “wahai saudaraku aku
adalah penduduk madinah yang paling banyak harta, pilihlah separuh hartaku dan
ambillah. Aku juga mempunyai dua orang istri, lihatlah salah satunya yang mana
yang paling menari hatimu sehingga aku bisa mentalakkannya untukmu”. Bagaimana
jika kita ditawarkan atau diposisi Abdurrahman bin auf sudah tentu kita tidak
akan menolak, tetapi apa kata Abdurrahman bin auf : “ Semoga allah memberkahi
keluarga dan hartamu, tidaklah aku memerlukan hal itu. Akan tetapi, tolong
tunjukan aku dimana pasar padaku, agar aku dapat berdagang disana.” (Kitab
Al-ishabah 2/26). Lalu Sa’ad bin rabbi’ mengantarkan Abdurrahman bin auf ke
pasar, Abdurrahman bin auf membeli barang dan menjualnya kembali sehingga dia
mendapat keuntungan.
Seketika sahabat
ditanya oleh Rasulullah bagaimana kabar Adurrahman bin auf, para sahabat menjawab ia sudah menikah dengan
seorang wanita dengan maskawin emas sebesar biji-bijian. Sahabatku hal ini
menandakan bahwa orang yang sudah terlanjur kaya sangat sulit untuk menjadikan
dirinya misikin kecuali karena takdir Allah. Hal ini dikarenakan habits yang
sudah terpatri dalam Abdurrahman bin auf. Abdurrahman bin auf memiliki jiwa
wirausaha dan sudah peham terkait dengan seluk beluk pasar karena sebelumnya ia
adalah seseorang yang paling kaya di Makkah. Abdurrahman bin auf sudah menjadi orang yang paling kaya
di madinah setelah menetap dan berdagang lama disana. Sahabatku dapatlah kita
simpulkan bahwa kondisi awal bukan merupakan titik acuan yang penting, namun
habits yang telah kita bentuk. Abdurrahman bin auf pernah menegaskan bahwa
“setiap kali aku memungut sebuah batu, maka aku bisa menemukan sebuah emas atau
perak”. Sayangnya kita terlalu
mementingkan kondisi awal dibandingkan dengan habits. Yang sebenarnya adalah
habits yang membentuk kesuksesan seseorang. Kebanyakan manusia mengeluh hanya
dikarenakan keadaan. Sedikit-sedikit keadaan, bagaimana mungkin berhasil
berwirausaha, modal saja tidak punya. Sehingga ujung-ujungnya adalah
menyalahkan keadaan. Mental ini terpatri dikarenakan habits yang suka mengeluh
dan tidak menekankan diri untuk mencoba bersungguh-sungguh merubah keadaan. So
berubahlah, lakukan perjalanan menuju kebaikan-kebaikan sehingga membuat diri
terbiasa.

Comments
Post a Comment